PENERAPAN ISLAMIC
HYPNOPARENTING DALAM MENCEGAH KEKERASAN GURU DI MADRASAH
Telah banyak terjadi kasus kekerasan kepada anak yang
dilakukan oleh guru maupun sebaliknya. Kekerasan di sekolah tidak boleh
dibiarkan berlarut-larut dan harus ada
usaha untuk melakukan pencegahannya. Guru
yang mengajar masih bersifat konvensional penyebab terjadinya kesenjangan
komunikasi antara murid dan guru. Gagalnya komunikasi yang baik antara guru dan
muridnya akan membawa guru tersebut pada berbagai kesalahan.
Kesalahan-kesalahan itu terjadi baik disengaja maupun tidak disengaja.
Guru melakukan kesalahan-kesalahan
disebabkan oleh beberapa faktor seperi guru yang menganggap mengajar adalah pekerjaan. Sehingga guru
hanya mengharapkan materi sebagai tujuan, ia hanya menghitung hari demi hari
agar segera berlalu. Cirinya adalah guru yang akan bersemangat mengajar jika
ada tambahan materi yang ia peroleh. Padahal pekerjaan yang guru urusi adalah
manusia, oleh karenanya guru harus memiliki keahlian yaitu jiwa mendidik.
Sebagai contoh guru harus mampu mendidik, dalam fungsi ini guru dituntut secara
moral maampu mengarahkan anak didiknya untuk berperilaku sesuai dengan norma
dan etika yang berlaku dalam masyarakat. Tentunya pekerjaan guru berbeda dengan
pekerjaan lainnya, seperti seorang tata usaha yang dihadapinya adalah komputer
dan mesin printer. Riswanto (2018: 22-25)
Salah satu cara mencegah kekerasan adalah penerapan Islamic hypnoparenting. Islamic
Hypnoparenting,
yakni seni mendidik dengan cara menanamkan sugesti dan nilai-nilai kebaikan
melalui alam bawah sadar anak, yang berbasis pada keislaman untuk pembentukan
akhlak. Menurut Eri, pikiran bawah sadar merupakan memori jangka
panjang, sehingga apapun yang disimpan akan menjadi bagian dari tingkah laku
atau akhlak seseorang.
"Pendidikan pertama yang harus
kita tanamkan adalah pendidikan tauhid. Ketrampilan dan kecerdasan tidak akan
ada apa-apanya kalau konsep itu tidak beres. Ajarkan anak bersyukur dan taat
kepada Allah. Libatkan emosi mereka, cara komunikasi yang baik, karena saat
itulah otak akan menyerap lebih banyak," ungkapnya dalam seminar yang
diadakan oleh Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ),
Minggu (5/2/2017).
Menurut
Eri, secara tidak disadari sebenarnya orang tua sudah menerapkan teknik
hypnoparenting, namun sayangnya, yang ditanamkan adalah sugesti-sugesti yang
buruk. Misalnya, ketika anak berbuat salah, berkali-kali orang tua berkata,
"Dasar nakal!". Ini, kata dia sama saja memasukkan sugesti
kepada anak bahwa dirinya nakal. Sebaliknya, Islamic Hypnoparenting hadir untuk mengajak orangtua membentuk
program bawah sadar anak dengan basis keislaman.
"Tanamkan sifat bersyukur, qanaah,
memaafkan, sabar dalam menghadapi ujian, ikhlas. Dia harus menyimpan itu di
alam bawah sadarnya. Berulang-ulang, secara terus menerus masuki pikiran mereka
dengan hal-hal seperti itu. Agar anak memiliki akhlak yang baik, jauh dari
kriminalitas, tidak kasar dan agresif," lanjut Eri.
Tak hanya itu, Islamic Hypnoparenting juga sangat bermanfaat agar anak mau shalat
lima waktu secara sadar tanpa disuruh. Eri menekankan, bahwa shalat itu
merupakan anjuran, bukan perintah untuk anak. Jadi gunakan kata-kata yang
baik tanpa hukuman atau bentakan. Misalnya "Kalau shalatnya cepat
dilaksanakan, main game-nya juga bisa jadi lebih cepat loh". Selain itu,
biasakan anak berdoa dan membaca Alquran.
Hal
ini menegaskan bahwa dalam mendidik anak, orangtua harus melakukan
metode-metode yang baik secara konsisten, berulang-ulang, tanpa kenal lelah.
https://www.suara.com/lifestyle/2017/02/05/201302/mengenal-seni-mendidik-bernama-islamic-hypnoparenting
Dalam
Islamic parenting kita tidak boleh
mencela anak. Banyak mencela akan berbuntuk penyesalan. Teguran dan celaan yang
berlebihan mengakibatkan sang anak makan berani melakukan keburukan dan hal-hal
yang tercela. Rasullullah adalah orang yang paling menghindari hal tersebut.
Beliau sangat menghindari mencela anak, apa pun yang anak lakukan. Nabi saw
mengambil sikap ini untuk menanamkan sikap mawas diri dan ketelitian yang
berkaitan erat dengan akhlak mulia.
Mungkin
seseorang akan mengatakan : “Seandainya kita bersikap lemah lembut dan banyak
toleran, anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa
mengarahkan atau membimbingnya. Bila memang demikian, mengapa hal yang
dikhawatirkan itu tidak dilakukan oleh Anas, Ibnu Abbas, Zaid bi Haritsah, dn
putranya Usamah bin Zaid, anak-anak Ja’far, anak-anak pamannya., Al-Abbas
maupun anak-anak lainnya yang pendidikan mereka ditangani oleh Nabi ? Mangapa
mereka justru menjadi tokoh dan imam pemberi petunjuk bagi manusia ? Mengapa
mereka tadak ada yang bersikap kurang ajar ?
Dalam
menjalankan misi pendidikannya, Nabi saw telah berinteraksi dengan sejumlah
pemuda dengan karakter yng berbeda-beda. Nabi pernah berinteraksi dengan sejumlah
pemuda yang datang kepadanya meminta izin untuk berzina, dengan pemuda yang berbuat
kerusuhan, mereka yang suka melempari pohon kurma milik orang lain, atau dengan
sejumlah orang yang suka berbuat kesalahan. Mereka semua diperlakukan dengan
lemah lembut dan bijaksana, sehingga hasilnya sangat positif, pemuda-pemuda
tersebut kembali ke jalan yang benar. Pemuda-pemuda tersebut menyatakan
pengakuan belum pernah melihat seorang pengajar pun yang lemah lembut dan lebih
baik dari beliau. Syaikh Jamal Abdurrahman (2019 : 112-113)
Dari
penjelasan Islamic Hypnoparenting
diatas, semua guru dapat menjalankan dan memegang prinsip Islamic Hypnoparenting di madrasah dan kelas khususnya. Dengan
penerapan Islamic Hypnoparenting seorang guru yang nota benenya adalah orang
tua siswa di sekolah dapat mencegah terjadinya kekerasan di dalam pembelajaran.
Sebagai seorang guru atau orang tua di sekolah, hindarilah sikap marah. Guru
harus kreatif dalam menyikapi kesalahan-kesalahan anak. Marah bukanlah solusi
mendidik anak menjadi lebih baik, malah akan melemahkan kecerdasan anak.
Ibarat
api yang membakar dan menghanguskan semua yang ada didekatnya, begitupun marah
akan membakar hati anak sehingga menghanguskan rasa percaya diri dan kasih
sayang. Rasulullah saw melarang umat muslim untuk memiliki sifat pemarah dan
mewasiatkan untuk tidak melakukannya. Marah membuat diri kita tidak terkontrol
dan tidak bisa berfikir secara sehat karena hati dan pikiran kita dikendalikan
oleh nafsu dan syaitan ada bersama orang-orang yang marah. Dari beberapa
artikel dan penelitian disebutkan bahwa satu bentakan merusak milyaran sel-sel
otak anak kita. Jadi seorang guru harus selalu melatih kesabaran dalam dirinya.
Bahwa “kenakalan-kenakalan” anak didik sesungguhnya
merupakan cobaan dunia guru, dan mengatasinya dibutuhkan keteladanan seorang
guru.
Al-Ghazali menyatakan” Seorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya, dialah yang
dinamakan orang besar di bawah kolong langit. Ia bagai matahari yang memberikan
cahaya orang lain, sedangkan ia sendiri pun barcahaya. Ibarat minyak kasturi
yang baunya dinikmati orang lain, ia sendiri pun harum.” Pernyataan
al-Ghazali tersebut dapat dipahami bahwa profesi guru yang paling mulia dan
paling agung disbanding dengan yang lain. Guru meneladani Rasuluallah,
Rasuluallah bergelar sebagai salah satu diantara pendidik-pendidik besar
sepanjang masa. Imam Musbikin (2010: 17)
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ummu al-Fadhl
pernah bercerita,”Suatu ketika aku menimang-nimang seorang bayi. Rasulullah
saw. kemudian mengambil bayi itu dan menggendongnya.
Tiba-tiba sang bayi pipis membasahi pakaian Rasul saw. Segera saja, kurenggut dengan keras bayi itu dari
gendongan beliau. Rasul saw. pun menegurku, “Air dapat membersihkan pakaianku,
tetapi apa yang dapat menjernihkan perasaan sang bayi yang dikeruhkan oleh
sikap kasarmu itu ?” Kisah ini secara tidak langsung telah mengingatkan kita
semua para guru agar menjadi guru bersikap lemah lembut, santun dan bijak
terhadap murid-murid kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar