Kamis, 16 Januari 2020

Artikel Pendidikan


          PENERAPAN  ISLAMIC HYPNOPARENTING DALAM MENCEGAH KEKERASAN GURU DI MADRASAH


Telah banyak terjadi kasus kekerasan kepada anak yang dilakukan oleh guru maupun sebaliknya. Kekerasan di sekolah tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan harus ada  usaha untuk melakukan pencegahannya. Guru yang mengajar masih bersifat konvensional penyebab terjadinya kesenjangan komunikasi antara murid dan guru. Gagalnya komunikasi yang baik antara guru dan muridnya akan membawa guru tersebut pada berbagai kesalahan. Kesalahan-kesalahan itu terjadi baik disengaja maupun tidak disengaja.
Guru melakukan kesalahan-kesalahan disebabkan oleh beberapa faktor seperi guru yang menganggap  mengajar adalah pekerjaan. Sehingga guru hanya mengharapkan materi sebagai tujuan, ia hanya menghitung hari demi hari agar segera berlalu. Cirinya adalah guru yang akan bersemangat mengajar jika ada tambahan materi yang ia peroleh. Padahal pekerjaan yang guru urusi adalah manusia, oleh karenanya guru harus memiliki keahlian yaitu jiwa mendidik. Sebagai contoh guru harus mampu mendidik, dalam fungsi ini guru dituntut secara moral maampu mengarahkan anak didiknya untuk berperilaku sesuai dengan norma dan etika yang berlaku dalam masyarakat. Tentunya pekerjaan guru berbeda dengan pekerjaan lainnya, seperti seorang tata usaha yang dihadapinya adalah komputer dan mesin printer. Riswanto (2018: 22-25)
Salah satu cara mencegah kekerasan  adalah penerapan Islamic hypnoparenting. Islamic Hypnoparenting, yakni seni mendidik dengan cara menanamkan sugesti dan nilai-nilai kebaikan melalui alam bawah sadar anak, yang berbasis pada keislaman untuk pembentukan akhlak. Menurut Eri, pikiran bawah sadar merupakan memori jangka panjang, sehingga apapun yang disimpan akan menjadi bagian dari tingkah laku atau akhlak seseorang.
"Pendidikan pertama yang harus kita tanamkan adalah pendidikan tauhid. Ketrampilan dan kecerdasan tidak akan ada apa-apanya kalau konsep itu tidak beres. Ajarkan anak bersyukur dan taat kepada Allah. Libatkan emosi mereka, cara komunikasi yang baik, karena saat itulah otak akan menyerap lebih banyak," ungkapnya dalam seminar yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Minggu (5/2/2017). 
                  Menurut Eri, secara tidak disadari sebenarnya orang tua sudah menerapkan teknik hypnoparenting, namun sayangnya, yang ditanamkan adalah sugesti-sugesti yang buruk. Misalnya, ketika anak berbuat salah, berkali-kali orang tua berkata, "Dasar nakal!".  Ini, kata dia sama saja memasukkan sugesti kepada anak bahwa dirinya nakal. Sebaliknya, Islamic Hypnoparenting hadir untuk mengajak orangtua membentuk program bawah sadar anak dengan basis keislaman.
"Tanamkan sifat bersyukur, qanaah, memaafkan, sabar dalam menghadapi ujian, ikhlas. Dia harus menyimpan itu di alam bawah sadarnya. Berulang-ulang, secara terus menerus masuki pikiran mereka dengan hal-hal seperti itu. Agar anak memiliki akhlak yang baik, jauh dari kriminalitas, tidak kasar dan agresif," lanjut Eri. 
Tak hanya itu, Islamic Hypnoparenting juga sangat bermanfaat agar anak mau shalat lima waktu secara sadar tanpa disuruh. Eri menekankan, bahwa shalat itu merupakan anjuran, bukan perintah untuk anak.  Jadi gunakan kata-kata yang baik tanpa hukuman atau bentakan. Misalnya "Kalau shalatnya cepat dilaksanakan, main game-nya juga bisa jadi lebih cepat loh". Selain itu, biasakan anak berdoa dan membaca Alquran.
                  Hal ini menegaskan bahwa dalam mendidik anak, orangtua harus melakukan metode-metode yang baik secara konsisten, berulang-ulang, tanpa kenal lelah. https://www.suara.com/lifestyle/2017/02/05/201302/mengenal-seni-mendidik-bernama-islamic-hypnoparenting
Dalam Islamic parenting kita tidak boleh mencela anak. Banyak mencela akan berbuntuk penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan mengakibatkan sang anak makan berani melakukan keburukan dan hal-hal yang tercela. Rasullullah adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau sangat menghindari mencela anak, apa pun yang anak lakukan. Nabi saw mengambil sikap ini untuk menanamkan sikap mawas diri dan ketelitian yang berkaitan erat dengan akhlak mulia.
Mungkin seseorang akan mengatakan : “Seandainya kita bersikap lemah lembut dan banyak toleran, anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya. Bila memang demikian, mengapa hal yang dikhawatirkan itu tidak dilakukan oleh Anas, Ibnu Abbas, Zaid bi Haritsah, dn putranya Usamah bin Zaid, anak-anak Ja’far, anak-anak pamannya., Al-Abbas maupun anak-anak lainnya yang pendidikan mereka ditangani oleh Nabi ? Mangapa mereka justru menjadi tokoh dan imam pemberi petunjuk bagi manusia ? Mengapa mereka tadak ada yang bersikap kurang ajar ?
Dalam menjalankan misi pendidikannya, Nabi saw telah berinteraksi dengan sejumlah pemuda dengan karakter yng berbeda-beda. Nabi pernah berinteraksi dengan sejumlah pemuda yang datang kepadanya meminta izin untuk berzina, dengan pemuda yang berbuat kerusuhan, mereka yang suka melempari pohon kurma milik orang lain, atau dengan sejumlah orang yang suka berbuat kesalahan. Mereka semua diperlakukan dengan lemah lembut dan bijaksana, sehingga hasilnya sangat positif, pemuda-pemuda tersebut kembali ke jalan yang benar. Pemuda-pemuda tersebut menyatakan pengakuan belum pernah melihat seorang pengajar pun yang lemah lembut dan lebih baik dari beliau. Syaikh Jamal Abdurrahman (2019 : 112-113)
   Dari penjelasan Islamic Hypnoparenting diatas, semua guru dapat menjalankan dan memegang prinsip Islamic Hypnoparenting di madrasah dan kelas khususnya. Dengan penerapan  Islamic Hypnoparenting seorang guru yang nota benenya adalah orang tua siswa di sekolah dapat mencegah terjadinya kekerasan di dalam pembelajaran. Sebagai seorang guru atau orang tua di sekolah, hindarilah sikap marah. Guru harus kreatif dalam menyikapi kesalahan-kesalahan anak. Marah bukanlah solusi mendidik anak menjadi lebih baik, malah akan melemahkan kecerdasan anak.
Ibarat api yang membakar dan menghanguskan semua yang ada didekatnya, begitupun marah akan membakar hati anak sehingga menghanguskan rasa percaya diri dan kasih sayang. Rasulullah saw melarang umat muslim untuk memiliki sifat pemarah dan mewasiatkan untuk tidak melakukannya. Marah membuat diri kita tidak terkontrol dan tidak bisa berfikir secara sehat karena hati dan pikiran kita dikendalikan oleh nafsu dan syaitan ada bersama orang-orang yang marah. Dari beberapa artikel dan penelitian disebutkan bahwa satu bentakan merusak milyaran sel-sel otak anak kita. Jadi seorang guru harus selalu melatih kesabaran dalam dirinya.
Bahwa “kenakalan-kenakalan” anak didik sesungguhnya merupakan cobaan dunia guru, dan mengatasinya dibutuhkan keteladanan seorang guru.
Al-Ghazali menyatakan” Seorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya, dialah yang dinamakan orang besar di bawah kolong langit. Ia bagai matahari yang memberikan cahaya orang lain, sedangkan ia sendiri pun barcahaya. Ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain, ia sendiri pun harum.” Pernyataan al-Ghazali tersebut dapat dipahami bahwa profesi guru yang paling mulia dan paling agung disbanding dengan yang lain. Guru meneladani Rasuluallah, Rasuluallah bergelar sebagai salah satu diantara pendidik-pendidik besar sepanjang masa. Imam Musbikin (2010: 17)

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ummu al-Fadhl pernah bercerita,”Suatu ketika aku menimang-nimang seorang bayi. Rasulullah saw.  kemudian  mengambil bayi itu dan menggendongnya. Tiba-tiba sang bayi pipis membasahi pakaian Rasul saw. Segera saja, kurenggut dengan keras bayi itu dari gendongan beliau. Rasul saw. pun menegurku, “Air dapat membersihkan pakaianku, tetapi apa yang dapat menjernihkan perasaan sang bayi yang dikeruhkan oleh sikap kasarmu itu ?” Kisah ini secara tidak langsung telah mengingatkan kita semua para guru agar menjadi guru bersikap lemah lembut, santun dan bijak terhadap murid-murid kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar